Senin, 18 September 2017

Toleransi Salah Kaprah! Haruskah Anak-anak SD Muslim Diajak ke Gereja Untuk Belajar Toleransi?


Di sosial media beredar foto-foto dimana terlihat anak-anak muslim berjilbab siswi SD tengah duduk di dalam gereja.

Ada yang menyebut HOAX, foto editan.

Tapi ternyata bukan HOAX ataupun EDITAN, tapi kejadian nyata, bahkan diposting juga di laman fanpage Keuskupan Agung Jakarta.

“Senin, 28-8-2017
150 siswa/siswi & 10 guru SD Muhamadiyah kota Probolinggo datang berkunjung utk praktek toleransi sejak dini di gereja katolik Maria Bunda Karmel Probolinggo.
Diterima oleh pastor paroki, Rm. Hugo Susdianto O’Carm
Mereka melihat dan masuk dalam gedung gereja, melihat2 isinya, bertanya2 tentang keingintahuannya.
Dengan bahasa mereka, ada yg bertanya pada pastor
“Ustad disini tinggal sm siapa?”
semoga semakin memupuk rasa kebangsaan dlm NKRI ini,” seperti dikutip brilio.net dari status Keuskupan Agung Jakarta, Minggu (3/9).

Link: https://www.brilio.net/wow/begini-tingkah-lucu-siswa-siswa-sd-belajar-toleransi-agama-di-gereja-170903x.html#

SUDAH TEPATKAH MENGAJARKAN TOLERANSI DENGAN MENGAJAK ANAK-ANAK MUSLIM YANG MASIH KECIL KE GEREJA?

Dalam Fatwa Al Lajnah Ad Daimah (2: 115) disebutkan, “Jika pergi ke gereja untuk menunjukkan sikap toleransi, maka tidak boleh. Namun jika itu sebagai langkah awal untuk berdakwah, mengajak non muslim pada Islam, tetapi tanpa turut serta dalam ibadah mereka, juga tidak khawatir terpengaruh dengan ibadah, kebiasaan dan taklid pada mereka, itu boleh.”

(Sumber : https://rumaysho.com/9851-hukum-muslim-masuk-gereja.html)

SELAIN ITU… AJARAN RASULULLAH SAW juga ajaran LUKMANUL HAKIM kepada anaknya seperti disebutkan dalam Al Quran… justru anak-anak harus dikokohkan aqidahnya.

وَإِذۡ قَالَ لُقۡمَـٰنُ لِٱبۡنِهِۦ وَهُوَ يَعِظُهُ ۥ يَـٰبُنَىَّ لَا تُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ‌ۖ إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٌ۬

Dan [ingatlah] ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan [Allah] sesungguhnya mempersekutukan [Allah] adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS Lukman: 13)

Saran saya buat para guru yang pinter-pinter yang suka ngajak anak didiknya ke gereja…

Sampean tau gak cara berfikir anak-anak..?

Sinih saya kasih tau sampean tentang cara berfikir anak-anak…

Anak-anak itu apa yang dia lihat, dan yang menurut dia keren dia akan aplikasikan dalam diri mereka..

Misalnya: anak-anak suka nonton film Superman Spiderman dll.. maka dalam pikiran anak tersebut ingin jadi Superhero.. kadang teriak-teriak terbaaang…. claaass mengeluarkan jaring… seakan sedang jadi Spiderman..

Kadang juga mereka membayangkan jadi Doraemon dengan kantong ajaibnya…

Intinya anak-anak ibarat kertas putih yang apa saja ditulis dengan tinta maka akan terlihat.. dan susah dihapuskan..

Naah.. yang ingin saya tanya gimana kalo sampean mati dalam keadaan mengajak anak-anak umat Islam ke gereja..

Terus anak-anak yang kalian ajak itu berfikir: “owhh ternyata ada Tuhan selain Alloh yaa..” “Waah ternyata Tuhan yang di Gereja itu baik banget ngasih hadiah..” DLL

Gimana kalo sampean Alloh matikan dalam keadaan anak-anak yang Alloh amanahkan untuk dididik kepada pak guru dan bu guru yang pinter-pinter sedang berfikir seperti itu.. ???

Berati sampean mati dalam keadaan membimbing anak yang masih polos itu berfikir ada Tuhan selain Alloh..

Bapak ibu buah hati Anda adalah aset berharga Anda.. halooo paa atau Bu guru..[rj]

Minggu, 03 September 2017

Larangan Berpuasa Di Hari Tasyrik, Ini Penjelasannya


Hari Tasyrik adalah hari penuh kemuliaan bagi umat Islam yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah atau pada Sabtu hingga Senin (2-4/9/2017)
Pada hari itu jamaah haji sedang melaksanakan ritual melempar jumrah, dan hari dimana umat Islam di seluruh dunia tengah sibuk menyembelih hewan kurban.
Pada hari Tasyrik ini umat Muslim dilarang untuk melaksanakan puasa.

Tidak boleh berpuasa pada hari tasyrik menurut kebanyakan pendapat ulama. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” An Nawawi rahimahullah memasukkan hadits ini di Shahih Muslim dalam Bab “Haramnya berpuasa pada hari tasyriq”.

Bagaimana hukum puasa Senin Kamis pada hari tasyrik?
Ada sebagian saudara kita yang punya kebiasaan puasa Senin Kamis.
Apakah pada hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah) diperbolehkan untuk melakukan puasa tersebut?
Disebutkan dalam Matan Al Ghoyah wat Taqrib -salah satu rujukan fikih dalam madzhab Syafi’i- bahwa ada lima hari diharamkan puasa, yaitu hari Idul Fitri, hari Idul Adha, dan tiga hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah).

Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Al Auza’i, Malik, Ahmad dan Ishaq dalam salah satu pendapatnya bersikap akan bolehnya puasa bagi jamaah haji yang melakukan haji tamattu’ -saat tidak memiliki hewan hadyu untuk diqurbankan-. Begitu pula pendapat Imam Syafi’i yang qadim (yang lama) membolehkannya. Demikian disebutkan dalam Al Majmu’, 6: 314.

Di halaman sebelumnya, Imam Nawawi rahimahullah menuturkan, “Pendapat yang terkuat menurut ulama Syafi’iyah bahwa yang jadi pegangan adalah pendapat Imam Syafi’i yang jadid (yang baru) yaitu tidak boleh berpuasa pada hari tasyrik baik untuk jamaah haji yang menjalankan manasik tamattu’ atau selain mereka.

Namun pendapat yang kuat bahwa puasa bagi jamaah haji yang menjalankan tamattu’ dibolehkan dan dikatakan sah. Karena ada hadits yang meringankan puasa seperti ini. Itulah pendapat yang didukung oleh hadits yang lebih tegas dan tak perlu berpaling pada selain pendapat ini.” (Al Majmu’, 6: 313).

Abu Bakr bin Muhammad Al Hishni berkata, “Sebagaimana diharamkan berpuasa pada hari Idul Fithri dan Idul Adha, diharamkan pula berpuasa pada hari tasyrik yaitu tiga hari setelah Idul Adha (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).
Inilah pendapat jadid atau terbaru (dari Imam Syafi’i saat di Mesir). Inilah yang lebih tepat. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang puasa pada hari tersebut sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad shahih.

Dalam shahih Muslim disebutkan, “Hari-hari tasyrik adalah hari makan dan minum.”
Sedangkan menurut pendapat Imam Syafi’i yang qadim (saat di Irak), dibolehkan puasa pada hari tasyrik bagi jamaah haji yang mengambil manasik tamatu’ yang tidak memiliki hadyu.
Inilah yang diisyaratkan dalam firman Allah Ta’ala,

فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ

“(Tetapi jika ia tidak menemukan binatang hadyu atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji.” (QS. Al Baqarah: 196).

Dalam Shahih Bukhari disebutkdan dari ‘Aisyah dan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhum, keduanya berkata, “Tidak diberi keringanan di hari tasyrik untuk berpuasa kecuali jika tidak memiliki hadyu.”
Imam Nawawi memilih pendapat Imam Syafi’i yang qadim ini.

Sebelumnya, Ibnu Shalah telah mendukung pendapat tersebut pula.
Namun menurut pendapat ulama madzhab Syafi’i, berpuasa pada hari tasyrik tidak dibolehkan.
Akan tetapi, jika kita memilih pendapat yang qadim, apakah dibolehkan bagi selain jamaah haji mutamatti’ untuk berpuasa? Ini ada dua pendapat.

Yang benar, haram untuk berpuasa. Wallahu a’lam. (Kifayatul Akhyar, hal. 253).
Apa yang dijelaskan terakhir dari penulis Kifayatul Akhyar menunjukkan bahwa tidak boleh berpuasa di hari tasyrik selain jamaah haji yang mengambil haji tamattu’.

Berarti yang berpuasa Senin Kamis juga tidak boleh melakukan puasa pada hari tasyrik.
Termasuk pula di dalamnya untuk puasa Daud. Siapa yang berpuasa sunnah pada hari tasyrik berarti kudu dibatalkan saat ini juga. (tri)

Minggu, 27 Agustus 2017

Merinding... Inilah “Karomah” Habib Rizieq di Milad 19 FPI


Ahad pekan kemarin, 20 Agustus 2017, pasca acara peringatan Milad FPI 19 Agustus 2017 di Stadion Muara Kamal Penjaringan Jakarta, saya sempat silaturahim ke Pondok Pesantren Rafah Bogor, bertemu dengan Pimpinan Ponpes KH. Muhammad Nasir Zein (MNZ). KH Nasir Zein adalah Imam Sholat Jum’at Aksi Bela Islam 212 di Monas.

Beliau bercerita,
“Beberapa hari yang lalu (sebelum acara Milad FPI) ana mimpi didatangi Habib Rizieq Syihab (HRS). Beliau persis duduk di sofa ini. Beliau bertanya tentang keluarga ana, anak berapa, dan seterusnya.”

Seperti diketahui, sampai saat ini Habib Rizieq masih berada di Tanah Suci.

Ustadz Nasir Zein menghela nafas sebentar dan melanjutkan ceritanya, “Masya Allah, keesokan harinya ana ditelpon oleh Haji Amin. Beliau ternyata Bendahara FPI, ana belum kenal sebelumnya. Beliau menanyakan bagaimana kalau mau pesan catering untuk makan siang VIP di acara Milad FPI. Ana kasih nomor bagian catering Elhana.” (Ustadz Nasir Zein selain mengelola Ponpes Rafah, beliau adalah owner Catering Elhana yang biasa menyediakan catering untuk walimah, acara perkantoran, dan sebagainya).

Beliau mempersilakan kami minum dan melanjutkan ceritanya,
“Saat Milad FPI, ana hadir sebagai undangan. Alhamdulillah, pesanan catering berjalan sesuai rencana. Saat itu ana ketemu Haji Amin, bendahara FPI yang nelpon ana. Haji Amin cerita kalau minggu lalu kebingungan menyiapkan catering untuk tamu-tamu VIP. Terus dia cerita bermimpi didatangi HRS. Dalam mimpinya itu HRS memerintahkan kepadanya, ‘Sudah, hubungi saja Ustadz Nasir di PP Rafah!”. Sampai disini kami yang mendengarkan cerita ustadz Nasir Zein merinding dan berkaca-kaca.

“Masya Allah, bisa nyambung begitu ya, Ustadz!” seruku.

“Setelah ana ceritakan ke Haji Amin, bahwa ana pun mimpi didatangi HRS, Haji Amin menangis tersedu-sedu. Masya Allah, ana bersaksi bahwa HRS ini orang shaleh yang banyak karamahnya.”

Subhanallah…

Aku termenung dan teringat sebuah hadits, “Ruh-ruh itu seperti tentara yang berhimpun dan saling berhadapan. Apabila mereka saling mengenal maka akan saling bersatu, dan apabila saling berbeda maka akan bercerai berai” (HR Bukhari Muslim).

Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim, satukan hati-hati kami bersama orang-orang shalih itu, bersama para Nabi, bersama para Mujahidin, bersama para Syuhada, bersama para Shalihin. Aamiin Ya Rabb.(gr)

Minggu, 20 Agustus 2017

Jin Bisa Ikut Campur dalam Berhubungan Jika Suami Istri Lakukan 3 Hal Ini


Tanpa diketahui, jin kafir bisa ikut campur dalam hubungan jika suami dan istri melakukan tiga hal ini. Bahkan melakukan satu di antara tiga hal ini saja, jin kafir bisa menyusup dan turut campur.

Nggak mau kan, pasangan hidupmu dijamah dan dinodai jin? Maka, hindari tiga hal ini.

Tidak Berdoa

Jika suami istri langsung begituan tanpa mengawalinya dengan doa, dan juga tanpa membaca basmalah, maka syetan dari golongan jin akan ikut-ikutan.

Dalam Fathul Bari, Mujahid mengatakan:

أَنَّ الَّذِي يُجَامِع وَلَا يُسَمِّي يَلْتَفّ الشَّيْطَان عَلَى إِحْلِيله فَيُجَامِع مَعَهُ

“Siapa yang jima' dengan istrinya lantas tidak mengawalinya dengan ‘bismillah’, maka setan akan menoleh pada pasangannya lalu akan turut dalam jima' bersamanya”

Maka Rasulullah mengajarkan doa:

بِاسْمِ اللَّهِ ، اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ ، وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

"Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami"

Dalam hadits yang sama, yakni riwayat Imam Bukhari dan Muslim disabdakan beliau bahwa siapa yang membaca doa ini sebelum melakukan j1ma, maka jika Allah memberinya keturunan dari hubungan tersebut, setan tidak bisa membahayakannya.

Lewat pintu belakang

Maksudnya, haram bagi suami menggauli istrinya pada duburnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala melaknat orang yang melakukan hal itu.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَلْعُونٌ مَنْ أَتَى امْرَأَةً فِى دُبُرِهَا

“Benar-benar terlaknat orang yang menggauli istrinya di duburnya.” (HR. Ahmad; hasan)

Musdar Bustamam Tambusai dalam buku Ensiklopedia Jin, Sihir & Perdukunan, menjelaskan bahwa jika suami istri tidak mengikuti etika agama atau melanggar petunjuk Rasulullah saat j1ma, hal itu memungkinkan jin ikut serta dalam aktifitas mereka.

Mendarat di lapangan merah

Islam melarang suami menj1ma istri pada masa haid dan nifas. Yakni keluarnya darah setelah melahirkan. Keduanya, haid dan nifas merupakan darah kebiasaan wanita yang najis dan membuatnya berhadats besar.

Seperti penjelasan dalam buku Ensiklopedia Jin, Sihir & Perdukunan tersebut, hal ini juga bisa membuat jin turut ikut aktifitas mereka.(tar)

Waktu Tidur Diganggu Jin, Ini 7 Gejalanya


Seperti penyakit medis, penyakit non-medis akibat gangguan jin juga memiliki gejala. Gejala-gejala ini bisa dilihat atau dirasakan penderitanya. Jika sudah mengalami gejala ini disertai rasa tidak tenang, sebaiknya lebih mendekat kepada Allah dan meningkatkan ibadah, banyak berdoa termasuk ruqyah syar’iyah.

Ini tujuh gejala diwaktu tidur yang menandakan seseorang diganggu jin:

1. Mimpi buruk secara berulang-ulang, khususnya mimpi buruk yang sama. Misalnya mimpi melihat kucing hitam, mimpi melihat anjing hitam, dikejar binatang buas, didatangi makhluk menyeramkan, dan lain sebagainya.

2. Tidur sambil berjalan. Tanpa sadar, ternyata sudah pindah dari tempat tidur ke tempat yang lainnya.

3. Bergerak reflek saat tidur. Misalnya menendang-nendang atau memukul.

4. Mengigau, merintih atau menangis saat tidur.

5. Mimpi d1p3rko5a atau dipaksa melakukan hubungan yang haram. Atau sering mimpi berhubungan hingga lebih dari tiga kali sepekan.

6. Gigi beradu saat tidur sehingga menimbulkan suara.

7. Mimpi seolah-olah jatuh dari ketinggian.

Tujuh gejala ini, menurut Musdar Bustamam Tambusai dalam buku Ensiklopedia Jin, Sihir & Perdukunan, didapat dari pengalaman. Bukan berarti yang mengalami gejala ini otomatis kena gangguan jin karena bisa jadi akibat sakit medis.

Namun seperti disinggung di atas, jika disertai ketidaktenangan, perlu untuk konsultasi kepada pakar ruqyah syar’iyah. Sedangkan secara mandiri, perlu lebih mendekat kepada Allah dan meningkatkan ibadah serta banyak berdoa meminta perlindungan Allah.(tar)

Sabtu, 12 Agustus 2017

Sejarawan Kristen: Kedamaian dan Kehidupan Penuh Toleransi Tercipta di Bawah Naungan Khilafah Islam


Dalam buku “The Preaching of Islam“, orientalis dan sejarawan kristen Thomas W. Arnold mencatat keadilan Khalifah Islam membuat warga Kristen penduduk Syam lebih memilih hidup di bawah kekuasaan Khalifah Islam dibanding dipimpin oleh Kaisar Romawi walau sama-sama Kristen.

Wilayah Syam (Syria, Jordan, Palestina) di bawah pemerintahan kristen Romawi timur (Byzantium) selama 7 abad sebelum Islam datang.

Ketika pasukan Muslim di bawah pimpinan Abu Ubaidah mencapai lembah Jordan, penduduk Kristen setempat menulis surat kepadanya berbunyi:

“Saudara-saudara kami kaum muslimin, kami lebih bersimpati kepada saudara daripada orang-orang Romawi, meskipun mereka seagama dengan kami, karena saudara-saudara lebih setia kepada janji, lebih bersikap belas kasih kepada kami dengan menjauhkan tindakan-tindakan tidak adil serta pemerintah Islam lebih baik daripada pemerintah Byzantium, karena mereka telah merampok harta dan rumah-rumah kami.”

Penduduk Emessa menutup gerbang kota terhadap tentara Heraclius serta memberitahukan kepada orang-orang Muslim bahwa mereka lebih suka kepada pemerintahan dan sikap adil kaum muslimin dari pada tekanan dan sikap tidak adil penguasa Romawi.

Demikianlah gambaran jiwa rakyat di Syam selama masa perang (tahun 633-639 Masehi). Dimana tentara kaum muslimin lambat laun dapat mengusir tentara Romawi dari wilayah itu. Dan tatkala Damaskus pada tahun 637 mempelopori menciptakan syarat-syarat perdamaian dengan pihak Kekhalifahan Islam, yang berarti terjaminnya keamanan dan diperolehnya kondisi-kondisi yang menguntungkan, maka hal itu segera diikuti oleh kota-kota lainnya. Emessa, Arethusa, Hieropolis mengadakan perjanjian yang sama dengan pihak Kekhalifahan Islam, kepada siapapun mereka harus membayar pajak. Bahkan Patriarch Jerusalem menyerahkan kota itu dengan syarat-syarat yang sama. Kecemasan terhadap timbulnya kekacauan agama akibat tindakan Kaisar Romawi mendorong mereka untuk lebih mendekati sikap toleransi kaum Muslimin.

Rakyat propinsi kekaisaran Byzantium yang direbut tentara muslim dapat menikmati alam toleransi seperti paham Monophysis dan Nestoria, yang selama berabad-abad tertekan oleh pemerintahan Kristen Romawi. Mereka diberi kebebasan tanpa gangguan untuk menjalankan keyakinan mereka, kecuali sedikit pembatasan, yaitu mereka jangan terlalu menonjol-nonjolkan symbol agama, untuk mencegah bentrokan antara penganut kedua agama atau timbulnya fanatisme yang dapat melukai perasaan kaum muslimin. Luasnya toleransi ini -demikian menarik perhatian dalam sejarah abad ke ketujuh– dapat dilihat dari syarat-syarat yang diberikan kepada kota-kota yang ditaklukkan (oleh pasukan Islam), dimana perlindungan terhadap jiwa dan harta penduduk dan keleluasaan menjalankan ajaran-ajaran agama dijamin sebagai imbalan ketundukan dan pembayaran jizyah yang jumlahnya lebih kecil dibanding pajak mencekik yang diterapkan penguasa kristen Romawi.

Sebagai contoh, dapat dikutipkan disini syarat-syarat persetujuan sebagaimana ditetapkan pada waktu penyerahan kota Jerusalem kepada khalifah Umar bin Khattab:

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, Maha Pengasih. Inilah persetujuaan keamanan, yang oleh Umar, hamba Allah, Amirul Mukminin, diberikan kepada penduduk Elia (Palestina). Dia memberikan kepada semua, yang sakit atau yang sehat, jaminan keamanan bagi jiwa, harta, gereja, salib, dan semua hal yang berhubungan dengan agama mereka. Gereja tidak akan dirubah menjadi tempat kediaman, tidak akan dirusak, tidak juga mereka atau perlengkapan mereka akan dikurangi dengan cara apapun, begitu juga salib-salib atau harta milik mereka tidak akan diganggu, tidak akan ada paksaan bagi mereka mengenai soal-soal yang berhubungan dengan keyakinan mereka, dan tidak seorangpun diantara mereka akan dianiaya.”

Sumbangan wajib mereka ditetapkan lima dinar bagi mereka yang kaya, empat dinar bagi yang menengah dan tiga dinar bagi rakyat biasa. Bersama sama dengan Patriarch, Khalifah Umar mengunjungi tempat-tempat suci dan diriwayatkan ketika mereka berada dalam gereja Resurection, sedang bertepatan dengan waktu sholat, Patriarch mempersilahkan Khalifah untuk menunaikan sholatnya ditempat itu tetapi oleh Umar ditolak dengan lemah lembut, seraya mengatakan apabila beliau melakukan hal tersebut, maka dikhawatirkan kelak umatnya akan menganggap gereja itu sebagai tempat sholat bagi kaum muslimin dan menjadikannya masjid.

Sikap dan tindakan harmonis seperti itu juga diperlihatkan Umar terhadap penduduk yang beragama lain dalam urusan-urusan lainnya, seperti dituliskan dalam sejarah bahwa Umar pernah memerintahkan agar menyumbang uang dan makanan dari baitul mal untuk para penderita sakit lepra dari orang-orang Kristen. Bahkan dalam wasiatnya yang terakhir dimana beliau menunjuk penggantinya sebagai Khalifah, beliau menyinggung masalah Dzimmi (penduduk non-Islam yang tunduk) ini sebagai berikut: “Amatlah kuharapkan agar dia (Khalifah Baru) memperhatikan urusan kaum dzimmi ini, agar mereka itu tetap menikmati perlindungan Tuhan dan Rasulullah, pula agar dia (Khalifah Baru) menepati perjanjian dengan mereka, dan janganlah memberati mereka dengan beban-beban yang tak dapat mereka pikul.”

Demikianlah sejarah mencatat… kedamaian dan kehidupan penuh toleransi di bawah naungan Khilafah Islam.

__
Referensi: ‘The Preaching of Islam’ Thomas W. Arnold

[rj]

Terbaring Sakit, Mantan Katolik ini Ucapkan Syahadat, Tiba-tiba Keajaiban Ini Muncul


Bismillah,
Team Mualaf Center Darussalam menjadi saksi keajaiban dan kesembuhan dari Allah, disaat kritis hidayah itu datang menyapa dan disambut pak Jasso Winarto (75 tahun, mantan Katholik),

Beliau adalah seorang Legend ahli ekonomi, lulusan UGM tahun 1968, ahli indeks bursa saham senior dari Menkeu Sri Mulyani Indrawati dan wakil pemred Media Indonesia

Syahadat di bimbing oleh pendamping mualaf ikhwan dr. Jhon Ericson (mualaf) spesialis hemodialisis,

Alhamdulillah.. sebelum syahadat tidak mampu menggerakkan tangannya, الله أكبر setelah bersyahadat tiba - tiba bisa menggerakkan tangan dan menandatangani sertifikat mualaf, bahkan fisik lebih segar dan bugar..

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا

sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. (QS. Al Hajj 38)

Saat ini beliau masih dalam proses pemulihan, kita doakan kesembuhan dan yang terbaik untuk beliau..

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ, مذْهِبِ الْبَأْس, اشْفِ أَنْتَ الشَّافِي لاَ شِفَآءَ إِلاَّ شِفَاؤُكَ شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

Ya Allah, Rabb manusia Yang Menghilangkan kesusahan, berilah kesembuhan, Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan. Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain. HR. Bukhari

Dalam Islam sejatinya sakit itu adalah tanda kasih sayang Allah..

Sakit, sebagaimana juga setiap ujian, bukan menguji ketangguhan dan kemampuan.

Sebab sakit Allah beri sudah sesuai dengan takaran dan daya tahannya.

Ia sejatinya menguji kemauan untuk memberi makna. Tetap berharap pada Allah atau menerima jalan pintas iblis laknatullah..

قَالُوا لَن نُّؤْثِرَكَ عَلَىٰ مَا جَاءَنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالَّذِي فَطَرَنَا ۖ فَاقْضِ مَا أَنتَ قَاضٍ ۖ إِنَّمَا تَقْضِي هَٰذِهِ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan dari (Allah) yang telah menciptakan kami, maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya). (QS. Thaha 72-73)

Maka bagi dia yang mampu memberi makna terbaik bagi sakit, insya Allah kemuliaannya diangkat dan membuat malaikat yang selalu sehat takjub.

Sakit itu dzikrulloh..

Mereka yang menderitanya akan lebih sering dan syahdu menyebut Asma Allah dibanding ketika dalam sehatnya.

Sakit itu istighfar..

Dosa-dosa akan mudah teringat, jika datang sakit. Sehingga lisan terbimbing untuk mohon ampun.

Sakit itu tauhid..

Bukankah saat sedang hebat rasa sakit, kalimat thoyyibat yang akan terus digetar?

Sakit itu muhasabah..

Dia yang sakit akan punya lebih banyak waktu untuk merenungi diri dalam sepi, menghitung-hitung bekal kembali. Sakit itu jihad..

Dia yang sakit tak boleh menyerah kalah.. diwajibkan terus berikhtiar, berjuang demi kesembuhannya dijalan Allah..

Sakit itu ilmu..

Bukankah ketika sakit, dia akan memeriksa, berkonsultasi dan pada akhirnya merawat diri untuk berikutnya ada ilmu untuk tidak mudah kena sakit. Sakit itu nasihat..

Yang sakit mengingatkan si sehat untuk jaga diri. Yang sehat hibur si sakit agar mau bersabar. Allah cinta dan sayang keduanya. Sakit itu silaturrahim..

Saat jenguk, bukankah keluarga, atasan , teman bahkan ikhwah fillah yang jarang datang akhirnya datang membesuk, penuh doa, senyum dan rindu mesra? Karena itu pula sakit adalah perekat ukhuwah Islamiyah.

Sakit itu gugur dosa..

Barang haram tercelup di tubuh dilarutkan di dunia, anggota badan yang sakit dinyerikan dan dicuci-Nya.

Sakit itu mustajab doa.

Imam As-Suyuthi keliling kota mencari orang sakit lalu minta didoakan oleh yang sakit.

Sakit itu salah satu keadaan yang menyulitkan syaitan, diajak maksiat tak mampu-tak mau, membiasakan diri menahan hawa nafsu, dosa yang lalu disesali kemudian in syaa Allah diampuni Allah.

Sakit itu membuat sedikit tertawa dan banyak menangis..

Ini satu sikap keinsyafan yang disukai Nabi dan para makhluk langit.

Sakit meningkatkan kualitas ibadah..

rukuk-sujud lebih khusyuk, tasbih-istighfar lebih sering, tahiyyat-doa jadi lebih lama.

Sakit itu memperbaiki akhlak..

Kesombongan terkikis, sifat tamak dipaksa tunduk, pribadi dibiasakan santun, lembut dan tawadhu.

قَالَ وَمَنْ يَقْنَطُ مِنْ رَحْمَةِ رَبِّهِ إِلَّا الضَّالُّونَ

Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat. (QS. Al-Hijr 56)

Karena itu mulailah belajar menerima qada dan qadar menerima kenyataan bukan mencari jalan pintas yang ditawarkan iblis, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah agar tidak ada celah iblis dan sekutunya menyesatkan kita..

Akhirnya sakit membawa kita untuk selalu ingat mati. Mengingat mati dan bersiap amal untuk menyambut datangnya kematian yang bisa kapan saja, adalah pendongkrak derajat ketaqwaan.

{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌفَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ }

Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul (Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam), berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan keamanan dan keselamatan bagi kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. Jika mereka berpaling (dari keimanan) maka katakanlah “CUKUPLAH ALLAH BAGIKU, LA ILAHA ILALLAH. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki 'Arasy yang agung." (QS. At Taubah 128 - 129)

إِنَّ وَلِيِّيَ اللَّهُ الَّذِي نَزَّلَ الْكِتَابَ

Sesungguhnya pelindungku ialah Allah Yang telah menurunkan Al Quran. (QS. Al. A'raf 196)

تَوَفَّنِي مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ Wafatkanlah aku dalam keadaan Muslim dan gabungkanlah aku dengan orang yang saleh. (QS.Yusuf 101)

اَللّهُمَّ اخْتِمْ لَنَا بِاْلاِسْلاَمِ وَاخْتِمْ لَنَا بِاْلاِيْمَانِ وَاخْتِمْ لَنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ الله أكبر‎ الله أكبر‎ الله أكبر

Oleh Hanny Kristianto,

Sekjen Mualaf Center Indonesia
(pm)

Senin, 31 Juli 2017

Pemerintah Arab Saudi Kaget, Saat Makamnya Dibongkar Ternyata Jenazah Ulama Indonesia Ini .....

Ilustrasi
Pemerintah Arab Saudi mempunyai kebijakan bahwa jenazah yang telah dikubur selama beberapa tahun kuburannya harus digali.

Tulang belulang jenazah kemudian diambil dan disatukan dengan tulang belulang mayat lainnya.
Selanjutnya semua tulang itu dikuburkan di tempat lain demi efisiensi pemakaman.

Lubang kubur yang telah dibongkar akan dibiarkan tetap terbuka hingga datang jenazah berikutnya terus silih berganti. Kebijakan ini dijalankan tanpa pandang bulu.
Siapapun dia, baik pejabat atau orang biasa, saudagar kaya atau orang miskin, sama terkena kebijakan tersebut.

Inilah yang juga menimpa makam Syaikh Nawawi Al-Bantani (1813-1898). Satu Ulama yang mengharumkan nama Indonesia di tanah suci. Kuburnya genap berusia 3 tahun, datanglah seorang petugas dari pemerintah kota Makkah untuk menggali kuburnya. Namun yang terjadi adalah hal yang tak lazim.

Para petugas kuburan itu tak menemukan tulang belulang seperti biasanya. Yang mereka temukan adalah satu jasad yang masih utuh. Tidak kurang satu apapun, tidak ada lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti umumnya jenazah yang telah lama dikuburkan.

Bahkan kain putih kafan penutup jasad beliau tidak sobek dan tidak lapuk sedikit pun. Sontak kejadian ini mengejutkan para petugas yang sedang membongkar makamnya. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan melaporkan apa yang telah dilihatnya.
Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan.
Langkah bijak lalu diambil. Pemerintah Arab Saudi melarang membongkar makam Syekh Nawawi Al-Bantani. Jasad beliau lalu dikuburkan kembali seperti sediakala.

Hingga sekarang makam beliau tetap berada di Ma'la, Makkah.

Syekh Nawawi Al-Jawi Al-Bantani (1813-1898)

Nama lengkapnya ialah Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani.
Ia dilahirkan di Tanara, serang, Banten, pada tahun 1230 H/1813 M.
Ayahnya seorang tokoh agama yang sangat disegani.
Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Pada usia 15 tahun, Nawawi muda pergi belajar ke Tanah Suci Mekkah, karena saat itu Indonesia –yang namanya masih Hindia Belanda- dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara.
Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.

Tak lama ia mengajar, hanya tiga tahun, karena kondisi Nusantara masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat ia tidak bebas bergiat.
Ia pun kembali ke Makkah dan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada orang Indonesia yang belajar di sana.

Banyak sumber menyatakan Syekh Nawawi wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la pada tahun 1314 H/1897 M.
Namun menurut Al-A’lam dan Mu’jam Mu’allim, dua kitab yang membahas tokoh dan guru yang berpengaruh di dunia Islam, ia wafat pada 1316 H/1898 M.

Syekh Nawawi Al-Bantani adalah satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram di Makkah Al-Mukarramah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Mahfudz Termas.
Ini menunjukkan bahwa kealiman dan ilmunya sangat diakui tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di semenanjung Arab.

Syekh Nawawi sendiri menjadi pengajar di Masjid al-Haram sampai akhir hayatnya yaitu sampai 1898.
Lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya itu.

Wajar, jika ia dimakamkan berdekatan dengan makam istri Nabi Muhammad, Sayyidah Khadijah ra di Ma'la Makkah.

Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar Sayyidu Ulama’ al-Hijaz yang berarti Sesepuh Ulama Hijaz atau Guru dari Ulama Hijaz atau Akar dari Ulama Hijaz.
Yang menarik dari gelar di atas adalah beliau tidak hanya mendapatkan gelar Sayyidu ‘Ulama al-Indonesia sehingga bermakna, bahwa kealiman beliau tidak hanya diakui di semenanjung Arabia, namun juga di tanah airnya sendiri.

Selain itu, beliau juga mendapat gelar al-imam wa al-fahm al-mudaqqiq yang berarti Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam.(tri)

Jumat, 28 Juli 2017

De-Islamisasi Indonesia. Begini Kata Felix Siauw


Yang namanya kebetulan itu terjadi satu dua kali masih wajar, tapi bila terjadi berkali-kali, maka itu bisa disebut modus. Dalam matematika modus biasanya punya pola. Tidak hanya pola, tapi modus biasanya juga berisi sebuah pesan dari perancangnya, baik ia sadari ataukah tidak, dari situ kita bisa melihat yang harusnya tak terlihat

Kejadian akhir-akhir ini menunjukkan kepada kita pola tersebut, sebab terlalu banyak kebetulan yang terjadi. Yang bisa kita lihat, ada upaya sistematis de-Islamisasi.

Negeri ini mayoritasnya Muslim, pemerintahnya pun Muslim, tapi aksi de-Islamisasi ini sesungguhnya sudah berjalan sangat lama, bahkan sejak negeri ini merdeka.

Pelaku de-Islamisasi ini berusaha mereduksi peran Muslim dalam kemerdekaan Indonesia, juga mengaburkan fakta bahwa Islamlah yang menjadi inspirasi kemerdekaan.

Lebih daripada itu, pelaku de-Islamisasi ini mencoba menutup fakta bahwa dulu penjajah itu datang membawa 3G yang mana itulah sumber kesengsaraan ummat di Nusantara.

Adalah gold (emas), gospel (injil), glory (jaya), yang mewakili kepentingan kapitalis, misionaris, dan imperialis. Mereka tak hanya inginkan harta, tapi juga tahta dan agama.

Maka bangkitlah perlawanan kaum Muslim oleh para ulama, yang menyeru kaum Muslim menegakkan agama Islam, yang memang musuh alami dari keserakahan.

Dari ujung barat hingga timur bergejolak, ulama memberi fatwa bahwa membela tanah dan harta bagian dari seruan agama, sebab memang begitulah penjagaan dalam Islam.

Negeri ini berhasil dimerdekakan dari penjajah, agar tak lagi pecah dan terjajah, maka disatukanlah dengan semangat yang memerdekannya, yaitu karena Allah.

Sejarah menghantarkan kita bagaimana modus ini bermula dari hilangnya 7 kata “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, lalu berlanjut.

Islam yang menginspirasi perjuangan gagal diinstall dalam negeri tercinta, ulama-ulama yang memperjuangkannya lalu ditekan, bahkan dikriminalisasi.

Belum usai sampai di situ, tokoh-tokoh Islam seperti Muhammad Natsir dan Buya Hamka pun kembali melanjutkan cita-cita ulama pendahulu seperti Ki Bagus Hadikusumo.

Sejarah kembali mencatat, upaya de-Islamisasi itu kembali berhasil, syariat Islam kembali gagal menjadi dasar negara, yang memperjuangkannya lalu dipenjara.

Tahun demi tahun berganti, namun upaya menjauhkan Islam dari kaum Muslim tak berhenti, sekulerisasi mulai merata di seantero negeri, Muslim tapi tak paham Islam.

Islam direduksi hanya sekedar ibadah ritual, sementara Allah seolah hanya ada di masjid dan bulan ramadhan, negara seolah steril dari pengawasan dan hukum Allah.

Sementara penjajahan gaya baru mulai mencengkeram negeri ini, kekayaan Indonesia dikuasai segelintir, tapi para kapitalis tidak puas, mereka inginkan lebih lagi, seluruh negeri.

Bila selama ini para kapitalis puas hanya mem-backup mereka yang berkuasa, kini mereka ingin lebih, mereka ingin jadi penguasa itu sendiri, lebih leluasa.

3G itu seolah berulang kembali, Gold-Gospel-Glory, mereka mulai menggunakan pengaruhnya lewat politik pencitraan, tak mau lagi salah kedua kalinya.

Bila dulu mereka gagal lewat penjajahan fisik, maka mereka sudah belajar, sekarang mereka coba masuk lewat perang pemikiran, penjajahan model baru.

Hampir saja mereka berhasil, hanya saja Allah berkehendak lain, terjadilah kasus Al-Maidah 51, lidah si penista jadi blunder bagi rencana besar penjajah model baru ini.

Ummat Muslim seolah bangkit dari tidur panjangnya, momen ini seolah teguran Allah sekaligus penyatu segenap ummat. Dengan gagahnya ummat membela Al-Quran.

Gerakan aqidah yang awalnya diremehkan ini menjadi gelombang raksasa yang siap melumat apapun, namun, tetap santun dalam aksinya, berakhlak mulia.

Ummat tak segan-segan mengorbankan hartanya, sila ukhuwah dengan mudah terjalin antar gerakan Islam, kelompok Islam bersatu turun ke jalan membela agamanya.

Airmata berderai saat menyaksikan kalimat takbir, tahmid, tahlil, berpadu dengan kibar bendera tauhid, senyum-senyum ikhlas yang takkan terlupakan sampai kapanpun.

Di sinilah para penjajah menjadi gerah, rencana mereka bisa hancur bila kaum Muslim bersatu dan sadar apa yang terjadi, semangat Islam naik secara drastis.

Mulailah polarisasi dilakukan untuk meredam kaum Muslim, khas cara syaitan menakut-nakuti manusia. Muncullah tuduhan-tuduhan pada mereka yang membela agamanya.

Mulai dari makar, menggoyang negara, kudeta, sampai anti-kebhinekaan, anti-pancasila, anti-NKRI, termasuk radikal, ekstrim dan benih terorisme.

Tapi ummat tak lekang keberaniannya, aksi 411 diikuti 212 begitu herois, mereka tahu persis karena Allah saja mereka bergerak, maka mereka tak takut apapun.

Ancaman ditingkatkan, ulama-ulama yang terkait aksi #BelaIslam dikriminalisasi, dicari-cari alasan untuk menjerat, mulai dari prasangka hingga murni fitnah.

Dari cara legal sampai cara nakal, kepercayaan terhadap ulama terus digerus, para penjajah menggunakan seluruh kartu yang bisa mereka mainkan, at all cost.

Sementara sang penista berusaha terus-menerus diselamatkan, mulai dari menuduh penyebar video sebagai penyebabnya, sampai aksi #BelaIslam adalah bayaran.

Mereka menggelari sang penista dan komplotannya dengan simbol kebhinnekaan, paling pancasila, paling NKRI, sunan, santri kehormatan, pokoknya dewa.

Ummat tak berhenti, karena Allah yang menggerakkan mereka, bahkan saat jaksa mencoba memainkan tuntuntan, ummat tetap setia mengawal hukum agar ditegakkan.

Alhamdulilah, sang penista mendapatkan hukumannya. De-Islamisasi yang mereka rancang sedari dulu berantakan, ummat malah makin dekat dengan Islamnya.

Tapi para penjajah ini tak mau berhenti, the show must go on. Maka dimainkanlah modus lama, de-Islamisasi degan cara yang lebih keras, lebih kasar, tak terhormat.

Bila Natsir dan kawan-kawan dulu dianggap pembangkang dan pemberontak, hari ini gelar ini juga diberikan pada mereka yang konsisten untuk memperjuangkan syariat Islam.

Dan Hizbut Tahrir mendapatkan kehormatan pertama kali untuk masuk dalam ujian ini. Wacana pembubaran dilempar, lalu lihat bagaimana reaksi ummat Muslim semuanya.

Yang ingin saya sampaikan sedari tadi, masihkah kita tak sadar bahwa ini rangkaian de-Islamisasi yang sama sejak masa penjajahan? Hanya saja beda penjajahnya.

Arus Islam yang sedemikian kuat dan dahsyat ini harus dibuat lemah. Bagaimana caranya? Bubarkan mereka, adu kelompok yang tersisa, buat saling tidak percaya.

Kali ini fitnah semua sudah mengarah ke sana, dan ujian kini bagi kita kelompok Islam adalah bagaimana tetap menyatu dan membahu menghadapi de-Islamisasi ini.

Apalah Hizbut Tahrir dibandingkan kelompok lain di negeri ini, hanya saja kita perlu ketahui, ini bagian pelemahan kekuatan ummat, satu persatu akan mendapat giliran.

Masyumi dulu pernah merasakan hal yang sama, tokoh-tokoh Islam yang sekarang kita kagumi pun pernah mendapatkan tuduhan yang sama, itu modus bukan kebetulan.

Di sisi lain, gerakan-gerakan yang mendukung penista agama walau anarkis terkesan dibiarkan, tak seperti aksi #BelaIslam yang bahkan mujahid Camis harus berjalan kaki.

Hari ini Hizbut Tahrir diwacanakan dibubarkan, wacana FPI untuk dibubarkan pun sudah diramaikan, yang berada di depan dalam amar ma’ruf nahi munkar, dihabisi dulu.

Kini ujian itu di depan mata kita, mampukah kita solid untuk senantiasa bersama dalam perjuangan ini, hingga Allah berkenan menyatukan hati-hati kita.

Yang jelas, cara-cara keras, kasar dan tak terhormat ini takkan dilakukan bila tidak ada kepanikan. Bahwasanya para penjajah itu tahu Islam di ambang kebangkitan.

Para penjajah itu mungkin sudah merancang segalanya, tapi Allah pun sudah merancang yang lainnya, dan adalah Allah yang paling indah rancangannya.

Upaya de-Islamisasi akan terus mereka lanjutkan, dan kita pun akan tetap melanjutkan dakwah apapun urusannya. Sebab dakwah takkan pernah terhenti. [nk]

*Felix Siauw, Mu’allaf Tionghoa.

Kamis, 27 Juli 2017

Inilah Operasi Sapu Bersih Semua Negara Islam yang Perlu Diwaspadai


Tidak boleh ada negara Islam yang maju dan memimpin, itu doktrin utama Salibis Internasional dan Yahudi serta Komunis.

Untuk itu dunia harus didesain untuk kepentingan Salib, Yahudi dan Atheis. Irak dihantam, Mesir dihancurkan, Libya dikacaukan, Saudi dipasung, Kuwait dan Qatar dikebiri dan dibenturkan dengan saudaranya yang lain.

Uni Emirat sudah lama jadi kaki tangan asing, tempat transit paling nyaman buat misi zionisme internasional. Kalau Qatar adalah negara yang nyaman buat pergerakan dan tokoh Islam, maka emirat adalah “warung” kopinya Yahudi dan sekutunya.

Yordania dibuat jadi budak, Raja Abdullah dibentuk sedemikian rupa hingga lunak selunak-lunaknya.

Sudan dipecah jadi dua, pertama Sudan untuk Islam dibawah Omar Al Basyir, satu lagi Sudan Selatan untuk Kristen dibawah Presiden Salva Kiir. Tapi presiden Islam Sudan di”sandera” kasus HAM dan kasus korupsi, Omar Basyir tidak berkutik, Sudan diakuisisi.

Suriah dihabisi, pemimpin Syi’ah dipertahankan, kalangan sunni disikat, semua kekuatan sunni dalam pemerintahan dibersihkan oleh Bashar Assad.

Semua kekuatan Sunni di Irak juga dihancurkan, bahkan wakil presiden terpilih dari kalangan Sunni Thariq Al Hasyimi diusir, dikriminalisasi dan dihukum mati in absentia sampai harus lari keluar negeri.

Kekuatan Syi’ah di Bahrain juga merongrong pemerintahan Sunni, kekuatan Syi’ah di Bahrain hari ini bisa menumbangkan pemerintahan Sunni kapan saja mereka mau jika Bahrain tidak ditopang oleh Qatar dan Kuwait.

Plot Syi’ah Internasional dari Iran-Irak-Lebanon-Suriah terus melakukan ekspansi, target mereka selanjutnya adalah Yaman dan Bahrain.

Syi’ah di sisi kiri, Zionis Israel di sisi kanan, Amerika menyerang lewat atas, Eropa pura-pura bijak lalu mengambil untung diam-diam, semua sepakat untuk “keroyok” negara Islam.

Mesir dikuasai penuh setelah Jenderal Yahudi As Sisi berhasil menyingkirkan Muhammad Mursi Bin Isa Al Ayyat, hanya dalam jangka panjang, Ikhwanul Muslimin masih menjadi batu sandungan terbesar rezim kudeta ini.

Setelah Mesir hancur, dan Saudi dalam genggaman, Iran dan Suriah sudah berada di pihak mereka. Hanya itu kekuatan besar di kawasan teluk, tapi sudah berada di ketiak Zionis israel, yang bekerja sama dengan Syi’ah dan Komunis. Sisanya negara kecil yang ompong. Sementara itu Kristen menjadi benalu atau lintah yang membonceng untuk mengambil keuntungan.

Satu satunya kekuatan Islam hari ini yang masih “berani” dan gak mau tunduk adalah Turki. Kekuatan terbesar Islam yang menjadi payung bagi negeri-negeri muslim lain yang tertindas, Turki pun sudah dua kali dicoba dan digoncang kudeta besar sebagai konsekuensi atas “keberanian”nya kepada dunia kafir dan atheis yang arogan.

Kalau Indonesia sih, dikasih Jokowi saja sudah cukup dan cukup dijalankan politik belah bambu, dan politik beli pejabat, tokoh aparat, tokoh politik, dan tokoh ormas. Indonesia tidak masuk hitungan radar mereka, makanya Yahudi dkk belum memikirkan serius untuk menghancurkan Indonesia.

Indonesia dianggap akan hancur dengan sendirinya oleh mental oknum pejabat, aparat, dan tokoh yang rakus kekuasaan, jabatan dan uang yang sudah buta dari keadilan dan terjangkiti virus kezholiman dengan menghalalkan segala cara.

Muslim Indonesia adalah muslim yang hanya doyan ibadah, tahlil, sibuk dengan isu bid’ah dan khilafiyah. Maka Indonesia gak perlu diurus, cukup suap tokohnya, bayar pejabat dan aparatnya, beli KPU-nya, cukup setting MK-nya, cukup beli jenderal-jenderalnya yang mata duitan, maka nanti akan naik presiden-presiden selanjutnya yang bermental seperti Jokowi.

Untuk hadapi Indonesia gak perlu pakai perang, cukup operasi intellijen dan politik kotor adu domba dan fitnah. Politik zholim (menindas dan melibas siapapun yang berseberangan dengan penguasa), masukkan para diplomat asing yang busuk dan nakal, maka Indonesia akan rapuh dan hancur sendiri dari dalam.

Uang dan para pejabat pengkhianat (yang bisa dibeli) yang berada di dalam pemerintahan, adalah senjata utama asing untuk menghancurkan Indonesia, dan modus ini dipakai juga untuk menghancurkan banyak negara.

Waspadai tokoh boneka bayaran dan pengkhianat rakyat, bangsa dan negara yang selalu bicara seolah-olah mereka itu cinta dan membela Pancasila, padahal sesungguhnya mereka itu adalah anti Pancasila. Sementara kelompok ormas yang gigih membela Pancasila, dituduh dan difitnah sebagai ormas yang anti Pancasila, untuk itu ormas tsb harus dibubarkan, dan tokoh-tokohnya harus dikriminalisasi dengan tuduhan yang dibuat-buat (fitnah).

Ingat… pasukan salib modern tidak akan pernah bisa tidur selama kader Muhammad SAW masih kokoh dengan politik Islamnya.

Mereka akan membiarkan muslim yang hanya sibuk mempersoalkan jenggot, muslim yang hanya senang dengan pengajian dzikir dan tahlil, atau mereka yang muslim abangan (muslim KTP), namun mereka akan sangat ketakutan saat muslim bicara soal ekonomi Islam dan politik Islam, muslim jangan diberi kesempatan di pos-pos ekonomi dan politik. Muslim dibiarkan dengan cukup sibuk dalam dzikir dan ibadah (sholat) saja kemudian diadu domba dengan masalah-masalah khilafiah, muslim jangan diberi kesempatan tampil di panggung ekonomi dan politik.

Apalagi jika ada muslim yang mampu mengendalikan media dan militer, mereka akan sangat ketakutan… seperti yang sama-sama kita baca dan kita sebarkan ini. [mc]

Walloohu a’lam…..

*By: Tengku Zulkifli Usman
(Analis Politik Dunia Islam & Internasional)



Rabu, 26 Juli 2017

Bebaskan Masjid Al-Aqsha


Imam al-Bazzar dan al-Tabrani meriwayatkan hadis dari Abu Darda' yang menyebutkan, "Shalat di Masjidil Haram pahalanya sama dengan 100 ribu shalat di masjid yang lain. Shalat di masjidku ini pahalanya sama dengan seribu shalat di masjid yang lain, dan shalat di Masjidil Aqsha pahalanya sama dengan shalat sebanyak 500 shalat di masjid yang lain."

Hadis ini mengandung banyak maksud. Pertama, sebagai motivasi bagi para pengunjung ketiga masjid tersebut untuk memperbanyak ibadah, terutama shalat. Pahala shalat sunah di Masjidil Haram, Makkah, sama dengan 100 ribu shalat sunah di masjid yang lain. Itu artinya, satu kali shalat di masjid tersebut sama dengan shalat sunah bertahun-tahun di masjid sekitar rumah kita. Begitu pula dengan shalat sunah di Masjid Nabawi, satu kali shalat sunah di masjid tersebut, pahalanya sama dengan shalat sunah seribu kali di masjid yang lain.

Namun, yang perlu diperhatikan di sini adalah letak persamaannya antara yang 100 ribu (di Masjidil Haram) atau 1.000 (di Masjid Nabawi) atau 500 (di Masjidil Aqsha) dengan shalat di masjid-masjid yang lain hanya sebatas pahalanya, bukan pelaksa naan nya. Karena, tuntutan untuk tetap melaksanakan shalat sunah di masjid-masjid yang lain masih berlaku bagi setiap Muslim, baik bagi yang telah melaksanakan ibadah shalat di ketiga masjid itu maupun yang belum.

Kedua, hadis ini bisa berarti sebagai petunjuk bahwa ketiga tempat yang ditempati ketiga masjid tersebut meru pakan tempat yang istimewa. Sehingga, ibadah di ketiga tempat tersebut dilipatgandakan menjadi beberapa kali lipat dibandingkan ibadah di tempattempat yang lain.

Hal ini bisa dimaklumi mengingat ketiga tempat tersebut merupakan tempat perjuangan para utusan Allah dalam menebarkan ajaran-ajaran Allah SWT kepada seluruh umat Islam. Dan, yang ketiga, menunjukkan ke tiga tempat tersebut merupakan tem pat suci bagi umat Islam. Tempat-tempat itu harus selalu dijaga kesu ciannya, harus dijadikan tempat tujuan ibadah, harus selalu dikunjungi, dan dijaga kemerde kaannya.

Sehingga, semua keburukan dan penjajahan terha dap ketiga tempat itu harus disingkir kan secara bersamasama oleh seluruh umat Islam. Mengenai Masjidil Haram, Makkah, dan Masjid Nabawi, Madinah, tidak ada masalah. Semua ini karena kedua masjid itu berada di bawah kendali pemerintahan yang merdeka, yaitu Arab Saudi.

Yang menjadi tugas besar kita bersa ma sebenarnya adalah bagaima na membebaskan Masjidil Aqsha dari tangan penjajah. Pada tahap selanjutnya, prosesi ibadah haji umat Islam tidak hanya menapaktilasi peninggalan para nabi di Makkah dan Madinah yang berada di Arab Saudi, tetapi juga bisa ditambah dengan berkunjung dan beribadah di Masjidil Aqsha yang ada di Palestina.(rol)

Wali Kota Tangerang Keluarkan Edaran Shalat Berjamaah


Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah mengeluarkan surat edaran Pelaksanaan Shalat Berjamaah di Masjid. Dalam surat edaran tersebut wali kota menghimbau kepada seluruh umat Islam untuk menghentikan semua aktivitas pekerjaan maupun sekolah di Kota Tangerang saat adzan berkumandang. 

"Siapapun yang sedang melaksanakan aktivitasnya diimbau untuk segera melaksanakan shalat fardu berjamaah di masjid/mushala," ujar Kabag Humas Pemkot Tangerang, Felix Mulyawan di ruang kerjanya, Senin (24/7).

Imbauan tersebut, lanjut Felix, tertuang dalam Surat Edaran Nomor 151/2524-Kesra/2017 tentang Imbauan Melaksanakan Shalat Berjamaah di Masjid yang ditandatangani Wali Kota Tangerang Arief R Wismansyah tertanggal 24 Juli 2017.

Dalam surat edaran tersebut, kata Felix, wali kota mengimbau kepada Kepala Perangkat Daerah, Pegawai ASN, Anggota TNI/Polri, instansi vertikal, BUMN dan BUMD, pihak sekolah dan juga perusahaan swasta dan berbagai kalangan komunitas profesi untuk dapat menghentikan seluruh kegiatan pada jam kerja/sekolah saat adzan berkumandang dan segera melaksanakan shalat fardhu secara berjamaah di masjid.

"Saat adzan berkumandang segala aktivitas harap dihentikan dan diimbau untuk segera melaksanakan shalat fardu secara berjamaah di masjid/mushala di lingkungan kerja masing-masing. Sedangkan bagi non-muslim agar dapat menyesuaikan," katanya.

Selain itu, camat, lurah dan para ketua rukun warga (RW) juga diminta untuk mengimbau dan mengajak masyarakat muslim di wilayahnya untuk dapat memakmurkan masjid/mushala di wilayah masing-masing. Salah satu caranya dengan menjalankan ibadah shalat fardu secara berjamaah. 

Felix mengungkapkan, kebijakan tersebut dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, selain sebagai salah satu cara untuk memakmurkan masjid di Kota Akhlakul Karimah.

"Kita ingin menyampaikan bahwa julukan Kota Akhlakul Karimah bukan sekedar slogan atau simbol, kita ingin mewujudkannya dengan perbuatan nyata salah satunya dengan memakmurkan masjid. Kita sebut gerakan ini sebagai Gerakan Shalat Berjamaah di Masjid," katanya. (rol)

Kamis, 20 Juli 2017

Ustadz Yang Kepleset Di Layar Kaca, Ini Catatan Mantan Komisioner KPI Pusat


Banyak ustadz yang ingin masuk TV untuk memberi ceramah. Ilmu agamanya mungkin masih pas-pasan, tapi retorikanya lumayan. Dan biasanya industri TV lebih mencari yang retorikanya yang lumayan walau ilmu agamanya pas-pasan. Umumnya mereka dari kalangan usia muda. Padahal usia mempengaruhi cara berfikir dan gaya bicara. Hal ini berbeda dengan era awal media yang menampilkan Ustadz yang relatif sudah berumur tua. Tapi itulah media, faktor usia muda menjadi pertimbangan karena terkait dengan selera Ibu rumah tangga yang umumnya menjadi khalayak penikmat media, terutama layar kaca.

Pada situasi seperti ini, banyak juga Ustadz muda yang tidak paham bahwa ceramah mereka sebenarnya bukan “dakwah” tapi “show”. Mereka cuma Talk dan stasiun TV menjadikan Talk mereka sebagai Show. Anehnya, walau tidak paham tentang ini, banyak pula Ustadz muda itu yang menikmati show tersebut. Akibatnya, tidak jarang Ustadz terkena candu dakwah mereka sebagai show acara televisi. Mengapa sebuah show bisa menjadi candu?

Karena semakin banyak yang menonton sebuah show, semakin tinggi ratingnya. Semakin tinggi ratingnya, semakin mahal tarif iklannya. Semakin mahal tarif iklannya, semakin tinggi pula bayarannya. Ini sudah seperti ruang pengap, tidak jelas lagi antara dakwah dan dagang, atau antara riya’ dan ibadah. Sebab biasanya setelah itu disusul dengan tawaran iklan, sinetron, film atau manggung di tempat berkelas bagi Ustadz yang sudah masuk layar kaca dan dikenal luas oleh khalayak media.

Berapa biasanya tarif Ustadz yang manggung di tempat berkelas? Percaya atau tidak, umumnya berkisar 30 sd 75 juta sekali ceramah. Bahkan kadang cukup 15-30 menit ceramah. Harganya lebih mahal dari sebuah hasil riset yang digarap seorang dosen dengan sangat serius.

Semua bermula dan dimulai dari show di televisi. Sebagai sebuah show, seorang Ustadz kadang kerap pula dituntut mengikuti skenario. Mulai dari pakaian, materi bahkan gaya yang bisa menjadi personal branding baginya. Personal branding ini penting saat seorang Ustadz masuk dalam industri dakwah. Ini semacam merk yang memudahkan khalayak mengindentifikasi sebuah produk. Seperti kalimat “Jama’aaah, wooi jamaaaah…” yang sudah menjadi personal branding ustadz tertentu.

Atau bisa pula seorang Ustadz terbawa arus khalayak sedemikian rupa agar show-nya dinikmati penonton. Sehingga tidak jarang terkadang Ustadz lebih konsentrasi menyampaikan materi atau gaya yang lucu daripada materi ceramah yang menginspirasi dan mencerahkan jamaatnya. Semua demi memuaskan industri televisi dan khalayak penontonnya.

Tuntutan bawah sadar ini yang sering membuat Ustadz muda yang baru masuk TV dan belum kenal industri hiburan kepleset. Sehingga memang menjadi sulit membedakannya antara pelawak atau pendakwah. Pesan dakwah menjadi tidak penting karena yang dibutuhkan adalah hiburan. Inilah yang terjadi pada seorang Ustadz muda. Dia terbawa arus kehendaknya sendiri untuk memuaskan penonton agar ratingnya naik hingga kepleset lidah menyebut ada pesta seks di surga dalam sebuah ceramah (show?) di sebuah stasiun televisi swasta.

Saat saya menjadi komisioner KPI Pusat, beberapa kolega atau Ustadz muda sering meminta bantuan agar turut diorbitkan stasiun TV. Suatu permohonan yang tidak bisa saya penuhi sebab saya lebih suka mereka tetap sebagai Ustadz kampung yang keluar masuk mesjid atau lingkar kecil pengajian emak-emak memberi khutbah dan ceramah. Bagi saya itu lebih ikhlas, tulus tanpa rekayasa dan dekat langsung dengan jamaatnya. Tidak berharap imbalan, apalagi memasang tarif ceramah seperti yang pernah heboh beberapa tahun lalu. Jika ada amplop usai ceramah sekedar uang transport, diterima sebagai rezeki dari Allah SWT.

Dengan dasar pemikiran demikian dan untuk menjaga keikhlasan dakwah, saya sering menolak disebut Ustadz saat memberi ceramah pada sejumlah pengajian. Suatu saat bahkan saya sering menolak ketika diminta memimpin do’a usai ceramah. Sebab do’a itu kaplingnya ulama atau setidaknya Ustadz. Dan saya bukan Ustadz, apalagi Ulama. Jika ada amplop dari jamaah, ambil saja seperlunya untuk kebutuhan transport. Sebab jika menolak, nanti dibilang sombong dan bisa jatuh pada lembah kufur nikmat. Sisanya kembali disodaqahkan. Jangan sampai ceramah dijadikan sumber mencari nafkah. Sebab agama bukan untuk diperjual belikan dengan harga murah.

Lantas bagaimana menghindari agar para Ustadz yang tampil di televisi tidak lagi kepeleset? Ada beberapa cara untuk atasi hal tersebut, antara lain:

1) Sebaiknya industri TV memang punya tim khusus yang ahli agama untuk memilih narasumber mereka sesuai dengan tema dan target audiensnya. Ini membahas agama, suatu yang sakral di tempat yang profan. Harus lebih ekstra hati-hati.

2) Lembaga berwenang seperti MUI, Kementerian Agama atau PUSDAI dapat memberi semacam lisensi bagi Ustadz yang akan berceramah di TV. Ini menjadi penting karena saluran TV bersifat free to air, siapa saja dan dimana saja bisa mengakses siarannya.

3) Ustadz yang akan tampil di televisi perlu diberi semacam bekal tentang relasi agama dan media, terutama televisi. Ya mirip dengan media literasi untuk para Ustadz. Materi agama, itu keahlian mereka. Tapi soal media, tentu ahlinya berbeda.

Seorang Ustadz harus sadar bahwa mereka masuk TV sebagai subjek atau khalifah, bukan objek dari siaran TV. Kesadaran diri sebagai khalifah saat masuk TV ini yang membuat mereka tidak mudah mengikuti alam bawah sadar mereka sendiri untuk sekedar memenuhi hasrat kepuasan penonton atau mudah diatur oleh skenario industri televisi.

Jika ada Ustadz yang berminat, saya siap memberi pelatihan dasar tentang hal itu. Bukan materi ceramahnya, tapi bagaimana memahami iklim industri televisi dan membangun relasi dengannya. Jangan khawatir Tadz… Free, no charge. Ini amal jariyah buat Ana…[mc]

*Iswandi Syahputra, Mantan Komisioner KPI Pusat.(nk)

Irene Handono: Islamphobia di Indonesia Meningkat Tapi di Luar Negeri Islam Justru Sedang Bangkit


Dalam wawancara Tematik Dwimingguan Voa-Islam #Islamphobia pada bulan Juli 2017 ini, kemarin, Rabu (19/7/2017) Voa-Islam diberikan oleh Allah kesempatan disaat yang tak direncanakan, dengan mantan biarawati dan kini menjadi ustadzah yang menguasai kristologi, Ustadzah Irene Handono.

Ustadzah Irene memang mengamini terjadinya Islamphobia di Indonesia seperti jamur di musim hujan, namun justru diluar negeri justru mengalami kejadian sebaliknya dengan di Indonesia, negeri muslim terbesar di dunia ini.

"Iya ibarat seperti jamur yang bertumbuhan, semakin menjadi-jadi, memang lagi musimnya. Tapi di luar negeri justru sedang kebangkitan Islam, misalnya saja di Amerika, Eropa, Russia," ujar Umi Irene kepada Voa-Islam.com. ...di Rusia, jika 5 orang berkumpul, satu orang pasti muslim" ujar Umi Irene

Kasus Ade Armando contohnya, sulit tersentuh hukum meskipun berulangkali melecehkan simbol, Al Quran dan As Sunnnah Rasulullah SAW.

Seperti apa penjelasan lengkap Umi Irene? Simak video ekslusif Umi Irene pada link berikut ini:

Selasa, 11 Juli 2017

Zakir Naik Terancam Tak Punya Negara


Dai internasional Zakir Naik terancam tak punya negara, jika ia tak memproses kembali paspor kenegaraannya di India. Otoritas Kantor Pembuatan Paspor (RPO) di Mumbai memberikan Zakir waktu 10 hari untuk menyerahkan paspornya atau akan dicabut.

Seperti dikutip Times of India, Senin (11/7), penyerahan paspor tersebut atas inisiatif dari Badan Investigasi Nasioan (NIA) yang menganggap pidato Zakir Naik memicu aksi teror. NIA telah berulang kali memanggil Zakir Naik, tapi ia tak pernah datang. Zakir pun telah membantah memicu gerakan teroris.

Asisten RPO Mumbai menulis surat ke Zakir Naik pada 3 Juli. Ulama itu diminta datang untuk bertemu petugas pada jam bekerja antara pukul 10.00 hingga 12.30 dalam waktu 10 hari sejak surat dikeluarkan. Ia diminta membawa paspornya yang telah diperbaharui pada 20 Januari 2016.

"Tak menyerahkan paspor membuat kami bisa mengambil tindakan sesuai aturan Passport Act, 1967," ujar pejabat itu.

Zakir Naik telah meninggalkan India pada 13 Mei tahun lalu. Ia belum juga pulang hingga saat ini. Sejumlah laporan menyebut ia berada di Saudi. Kerajaan Saudi dikabarkan telah memberikan kewarganegaraan buat Zakir.(rol)